Sadar atau tidak sadar, seperti dikatakan oleh Rick Warren dalam bukunya yang sangat terkenal The Purpose Driven Life, kehidupan kita sebetulnya digerakkan oleh sesuatu. Warren menyebutkan lima hal yang paling kerap menjadi faktor penggerak kehidupan seseorang: rasa bersalah, kebencian dan kemarahan, rasa takut, harta benda serta kebutuhan akan pengakuan.
Kelima hal itu bukan penggerak yang positif, karena akan melahirkan pola pikir, sikap dan tindakan yang kontraproduktif; tidak membangun, dan merugikan baik diri sendiri maupun orang lain.
Nah, mari kita bertanya kepada diri sendiri, apa yang menggerakkan kehidupan kita? Pertanyaan ini penting untuk kita gumuli, sebab sesuatu yang menggerakkan kehidupan kita akan sangat menentukan cara kita berpikir, bersikap, dan bertindak.
Salah satu penggerak yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang percaya adalah rasa "berutang" kepada Tuhan; bahwa segala yang ada pada kita berasal dari Tuhan dan karena Tuhan. Sehingga kita pun terdorong untuk memakai semua itu untuk kemuliaan Tuhan, tidak sembarangan atau serampangan. Seperti dikatakan Rasul Paulus, "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
Ya, hidup kita, waktu kita, kesehatan kita, keluarga kita, bakat-bakat kita, rejeki kita, segala yang ada pada kita sesungguhnya berasal dari Tuhan. Maka, selayaknyalah kita mengembalikannya untuk kemuliaan Tuhan; bukan untuk kesenangan dan kepentingan kita pribadi.
Kelima hal itu bukan penggerak yang positif, karena akan melahirkan pola pikir, sikap dan tindakan yang kontraproduktif; tidak membangun, dan merugikan baik diri sendiri maupun orang lain.
Nah, mari kita bertanya kepada diri sendiri, apa yang menggerakkan kehidupan kita? Pertanyaan ini penting untuk kita gumuli, sebab sesuatu yang menggerakkan kehidupan kita akan sangat menentukan cara kita berpikir, bersikap, dan bertindak.
Salah satu penggerak yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang percaya adalah rasa "berutang" kepada Tuhan; bahwa segala yang ada pada kita berasal dari Tuhan dan karena Tuhan. Sehingga kita pun terdorong untuk memakai semua itu untuk kemuliaan Tuhan, tidak sembarangan atau serampangan. Seperti dikatakan Rasul Paulus, "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
Ya, hidup kita, waktu kita, kesehatan kita, keluarga kita, bakat-bakat kita, rejeki kita, segala yang ada pada kita sesungguhnya berasal dari Tuhan. Maka, selayaknyalah kita mengembalikannya untuk kemuliaan Tuhan; bukan untuk kesenangan dan kepentingan kita pribadi.
<0o0>
Ada seorang pria bangsawan sedang berjalan-jalan naik kereta kuda, menikmati panorama alam sekitar. Tiba-tiba ia melihat sebuah gambar besar di pinggir jalan; gambar Tuhan Yesus sedang disalib, bermahkota duri dengan luka-luka di sekujur tubuh. Di bawah gambar itu ada kalimat: Ini yang sudah Aku lakukan buat kamu, apa yang sudah kamu lakukan buat Aku?
Sekarang mari kita bayangkan Tuhan berdiri dihadapan kita dan bertanya, "Aku sudah memberikan kepadamu kehidupan, kemampuan ini dan itu, pekerjaan, keluarga, waktu. Bahkan yang paling utama bagi manusia: keselamatan! Lalu apa yang sudah kamu lakukan untuk Aku?"
Sama dengan lagu dari buku Nyanyikanlah Kidung Baru nomor 84, judul asli: I Gave My Life for Thee.
Sekarang mari kita bayangkan Tuhan berdiri dihadapan kita dan bertanya, "Aku sudah memberikan kepadamu kehidupan, kemampuan ini dan itu, pekerjaan, keluarga, waktu. Bahkan yang paling utama bagi manusia: keselamatan! Lalu apa yang sudah kamu lakukan untuk Aku?"
Sama dengan lagu dari buku Nyanyikanlah Kidung Baru nomor 84, judul asli: I Gave My Life for Thee.
Kub'rikan bagimu tubuh-Ku, darah-Ku,
engkau pun Kutebus, selamat jiwamu
Bagimu Kuberi hidup-Ku, apakah balasmu? 2x
Tahta-Ku mulia, dan rumah yang gerlap,
telah Kutinggalkan, demi dunia gelap
Kutinggalkan semuanya, apakah balasmu? 2x
Ku sudah disesah, tersiksa dan pedih,
supaya hilanglah dosamu yang keji
Kupikul salib bagimu, apakah balasmu? 2x
Dan dari rumah-Ku, Kubawa bagimu
kes'lamatan penuh, ampunan, kasih-Ku
Bagimu Kub'ri kurnia, apakah balasmu? 2x
engkau pun Kutebus, selamat jiwamu
Bagimu Kuberi hidup-Ku, apakah balasmu? 2x
Tahta-Ku mulia, dan rumah yang gerlap,
telah Kutinggalkan, demi dunia gelap
Kutinggalkan semuanya, apakah balasmu? 2x
Ku sudah disesah, tersiksa dan pedih,
supaya hilanglah dosamu yang keji
Kupikul salib bagimu, apakah balasmu? 2x
Dan dari rumah-Ku, Kubawa bagimu
kes'lamatan penuh, ampunan, kasih-Ku
Bagimu Kub'ri kurnia, apakah balasmu? 2x
Yang kerap terjadi adalah kita seperti anak dalam cerita berikut. Ada seorang anak pergi makan berdua dengan ayahnya di sebuah restoran fried chicken. Anak itu makan dengan lahap. Dengan maksud menggoda sang ayah pura-pura mau mengambil sepotong ayam yang ada dihadapan si anak. Si anak langsung menepis tangan ayahnya dan berkata, "Ayah, ini kan punya saya. Jangan diambil dong!"
Aneh? Jelas aneh. Sebab bukankah sang ayah yang membelikan anak itu ayam, sang ayah tentunya berhak mengambil ayam itu? Namun, toh sadar atau tidak, kita sering menjadi seperti anak itu. Ketika Tuhan meminta sedikit saja waktu kita, uang dan tenaga kita, perasaan dan pikiran kita, eh, kita malah menepisnya, "Maaf, Tuhan, ini kan milik saya. Jangan diambil!"
Seperti itu kerap kita bersikap. Padahal, sesungguhnyalah kita adalah orang yang berutang kepada Tuhan.
Aneh? Jelas aneh. Sebab bukankah sang ayah yang membelikan anak itu ayam, sang ayah tentunya berhak mengambil ayam itu? Namun, toh sadar atau tidak, kita sering menjadi seperti anak itu. Ketika Tuhan meminta sedikit saja waktu kita, uang dan tenaga kita, perasaan dan pikiran kita, eh, kita malah menepisnya, "Maaf, Tuhan, ini kan milik saya. Jangan diambil!"
Seperti itu kerap kita bersikap. Padahal, sesungguhnyalah kita adalah orang yang berutang kepada Tuhan.
